BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perlu kita
sadari bahwa klien yang akan di hadapi oleh seorang konselor memiliki karakteristik, kebutuhan, dan
tugas-tugas perkembangan yang berbeda-beda satu sama lain. Oleh karena itu,
seorang konselor harus mengatahui dan memahami akan strategi-strategi dalam
menangani haterogenitas masalah yang dimiliki oleh setiap klien sehingga ia
mampu untuk memberikan bantuan kepada klien seoptimal mungkin dengan metode
yang baik dan benar.
B.
Rumusan Masalah
Ada beberapa masalah yang kami bahas dalam
penyusunan makalah ini, diantaranya :
1.
Apa yang
dimaksud dengan strategi Bimbingan dan Konseling?
2.
Ada berapa jenis
strategi dalam Layanan Bimbingan dan Konseling?
3.
Apa tujian dari strategi
Bimbingan dan Konseling?
C.
Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu agar
konselor pada khususnya dan rekan-rekan pembaca pada umumnya mampu untuk
mengetahui dan memahami tentang strategi dalam layanan bimbingan dan konseling.
D.
Metode Penyusunan
Metode
yang kami gunakan dalan penyusunan makalah ini adalah metode Studi Pustaka. Dalam metode ini
penulis membaca buku-buku yang berkaitan denga penulisan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Strategi Bimbingan dan Konseling
Strategi
berasal dari bahasa yunani yaitu strategos
yang merupakan gabungan dari kata stratos
( militer ) dengan ago ( memimpin
). Sebagai kata kerja, strategos berarti
merencanakan ( to plan ).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah strategi
memiliki pengertian : ( 1 ) ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk
melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai; ( 2 ) ilmu dan seni
memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dl perang, dl kondisi yg
menguntungkan; ( 3 ) rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran
khusus; ( 4 ) tempat yg baik menurut siasat perang.
Pada awalnya
istilah strategi digunakan dalam lingkungan militer namun istilah strategi
digunakan dalam berbagai bidang yang memiliki esensi yang relatif sama termasuk
diadopsi dalam konteks bimbingan dan konseling yang dikenal dalam istilah
strategi bimbingan dan konseling. Dengan semakin luasnya penerapan istilah
strategi, Mintberg dan Waters ( 1983 ) mengemukakakn bahwa strategi adalah pola
umum tentang keputusan atau tindakan. Sedangkan Hardy, langley, dan Rose dalam
Sudjana ( 1986 ) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan strategi adalah suatu
rencana atau kehendak yang mendahului dan mengendalikan kegiatan.
Berdasarkan
bebrapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa strategi adalah suatu pola
yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau
tindakan dalam proses pencapaian tujuan. Strategi ini mencakup tujuan kegiatan,
subjek kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang
pelaksanaan kegiatan. Adapun strategi yang diterapkan dalam layanan bimbingan
dan konseling disebut dengan istilah strategi layanan bimbingan dan konseling,
yang terdiri dari layanan konseling individu, konsultasi, konseling kelompok,
bimbingan kelompok, dan pengajaran remedial.
B.
Macam-macam
Strategi layanan Bimbingan dan Konseling
1.
Konseling
Individu ( Individual Konseling )
Konseling
individu merupakan suatu proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi
melalui wawancara antara konselor dengan konseli ( klien ) dalam proses menangani masalah yang tdiak
dapat dipecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan kepada konselor sebagai
petugas yang profesional dan memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang
psikologi. Konseling ditujukan kepada individu yang normal, yang sedang
mengahadapi masalah-masalah baik itu dalam bidang pendidikan, pekerjaan, maupun
sosial.
Dalam
pelaksanaannya, konselor bersikap penuh simpati dan empati. Simpati artinya
menunjukan sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien. Adapun
yang dimaksud dengan empati adalah berusaha menempatkan diri dalam situasi diri
klien dengan segala masalah yang dihadapinya. Karena dengan cara ini klien dapat menjadi lebih
baik, karena ia merasa ada pihak lain yang juga merasakan kesulitan yang ia
rasakan.
Dalam
kegiatan konseling terdapat hubungan yang dinamis dan khusus, karena dalam
interaksi tersebut, konseli merasa diterima dan dimengerti oleh konselor. Dalam
hubungan ini, konselor dapat menerima konseli secara pribadi dan tidak memberikan
penilaian. Konseli merasa ada prang lain yang dapat mengerti masalah pribadinya
dan mau membantu memecahkan maslah tersebut. Pada proses ini juga, baik konseli
maupun konselor sama-sama mengambil pelajaran dari pengalaman hubungan yang
bersifat khusus dan pribadi ini.
Konseling adalah proses belajar yang
bertujuan agar konseli dapat memcahkan masalah-masalah pribadi, mengenal diri
sendiri, menerima diri sendiri serta kenyataan dalam proses penyesuaian diri
dengan lingkungan sekitarnya. Konseling pada dasarnya merupakan salah satu
teknik dalam kegiatan bimbingan, tetapi juga merupakan tekni inti atau teknik
kunci. Hal ini dikarenakan konseling dapat memberikan perubahan yang mendasar,
yaitu mengubah sikap. Dan sikap itu mendasari perbuatan, pemikiran, pandangan,
dan perasaan, dan lain-lain.
Dalam
konseling diharapkan konseli dapat mengubah sikap, keputusan diri sendiri
sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara lebih baik dan
memberikan kesejahteraan pada diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Konseling
juga bertujuan untuk mengadakan interpretasi fakta-fakta, mendalami arti nilai
hidup pribadi, kini dan mendatang. Konseling memberikan bantuan kepada individu
untuk mengembangkan kesehatan mental, perubahan sikap, dan tingkah laku.
Konseling menjadi strategi utama dalam proses bimbingan dan merupakan teknik
standar serta merupakan tugas pokok seorang konselor.
Secara umum
proses konseling individual dibagi atas tiga tahapan, yaitu:
a.
Tahap Awal
Konseling
Tahap awal
ini terjadi sejak klien bertemu dengan konselor hingga berjalan proses
konseling dan menemukan definisi maslah klien. Cavanagh ( 1982 ) menyebut tahap awal ini dengan istilah introduction, invitation, and environmental
suppot. Adapun yang dilakukan oleh konselor dalam proses konseling tahap awal
ini adalah sebagai berikut:
1)
Membangun hubungan
konseling dengan melibatkan klien yang mengalami masalah ( a working relationship ), yaitu hubungan yang berfungsi,
bermakna, dan berguna. Keberhasilah konseling salah satunya ditentukan oleh
tahap ini. Kunci keberhasilan tahap ini diantaranya dintentukan oleh
keterbukaan konselor dan konseli. Keterbukaan klien untuk mengungkapkan isi
hati, perasaan, dan harapan sehubungan dengan masalah ini akan sangat bergantung
pada kepercayaan klien terhadap konselor. Demikian pula dengan konselor,
hendaknya konselor mampu untuk menunjukan kemampuan dan profesionalitasnya
sehingga dapat dipercaya oleh klien.
2)
Menjelaskan dan
mendefinisikan masalah.
Untuk mengatasi masalah-masalah
yang dihadapi oleh klien tentunya klien harus mampu untuk menjelaskan
masalahnya tersebut. Dan tugas seorang konselor adalah membantu klien agar
dapat menjelaskan masalah yang dihapainya, karena tidak semua klien mampu untuk
bersikap terbuka menyangkut masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, konselor
harus mampu meyakinkan klien seingga klien tidak ragu dalam menjelaskan
masalah-masalah yang dihadapinya.
3)
Membuat
penjajakan alternatif bantuan untuk mengatasi maslah
Konselor berusaha
menjajaki kemungkinan rancangan bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan
membangkitkan segala potensi klien dan lingkungannya yang tepat untuk mengatasi
masalah kliennya.
4)
Menegosiasikan
kontrak.
Kontrak konselor dengan
klien itu meliputi waktu, tempat, tugas, dan tanggung jawab konselor, tugas dan
tanggung jawab klien, tujuan konseling dan kerja sama.
b.
Tahap Pertengahan ( Tahap Kerja )
Tahap
pertengahan merupakan tahap lanjutan dari tahap sebelumnya atau tahap awal.
Pada tahap ini, kegiatan konseling difokuskan pada penjelajahan maslah yang
dialami oleh klien, dan bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian
selama masa penjelajahan maslah. Menilai
kembali maslah klien akan membantu klien memperolah pemahaman baru, alternatif
baru, yang mungkin berbeda dengan
sebelumnya.
Adapun tujuan dari tahap ini adalah sebagai berikut
:
1)
Menjelajahi dan
mengeksplorasi maslah serta kepedulian klien dan lingkungannya dalam mengatasi
maslah tersebut. Maksudnya , dengan cara ini konselor berusaha agar kliennya
mempunyai pemahaman dan alternatif pemecahan baru terhadap masalah yang
dialaminya.
2)
Menjaga agar
huungan konsleing selalu terjaga. Maksudnya, dalam proses menjalin hubungan
antara konselor dengan konseli, konselor harus berpikir dan bertindak kreatif
dalam menggunakan berbagai variasi keterampilan konseling serta memelihara
keramahan, empati, kejujuran, keikhlasan dalam memberikan bantuan konseling.
3)
Proses konseling
agar berjalan sesuai dengan kontrak. Maksudnya, dalam hal pembuatan kontrak,
konselor dan klien membuat suatu kesepakatan mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan proses konseling. Kontrak dinegosiasikan agar betul-betul memperlancar
proses konseling.
c.
Tahap Akhir Konseling
Tahap ini
meruapakan tahap dimana konselor melakukan penilaian terhadap kinerjanya. Yang dapat
diukur oleh beberapa hal berikut:
1)
Menurunya
kecemasan klien.
2)
Adanya perubahan
prilaku klien ke arah yang lebih positif.
3)
Adanya perubahan
sikap pada klien dalam menanggapi suatu maslah yang dihadapinya.
Adapun tujuan
dari tahap ini adalah memutuskan perubahan sikap dan prilaku yang tidak
bermasalah. Adapun tujuan lainnya adalah
sebagai berikut :
1)
Terjadinya tranfer of learning pada klien.
2)
Melaksanakan
perubahan prilaku klien agar mampu mengatasi maslah yang di hadapinya.
3)
Mengakhiri
hubungan konseling.
2.
Bimbingan Kelompok ( Group Guidance )
Strategi lain
yang digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konsleing adalah bimbingan
kelompok. Teknik ini dipergunakan dalam proses membantu klien dalam memecahkan
masalah-masalah melalui kegiatan kelompok.
Isi kegiatan
bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan
maslah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan maslah sosial yang tidak disajikan
dalam bentuk pelajaran. Kegiatan ini banyak menggunakan alat-alat pelajran
seperti cerita-crita, boneka, dan film. Kadang-kadang dalam pelaksanaannya,
konselor mendatangkan ahli tertentu untuk memberikan ceramah yang bersifat
informastif.
Secara lebih khusus, layanan bimbingan kelompok
bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan
sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yakni
peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal klien.
Dalam pelaksanaannya,
bimbingan kelompok memerlukan persiapan dan praktik penyelenggaraan yang
memadai, dari langkah awal sampai dengan evaluasi dan tindak lanjutnya. Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah
pelaksanaan bimbingan kelompok, yaitu :
a.
Langkah Awal
Pada tahap ini
dilaksanakan kegiatan pembentuka kelompok bagi klien yang menyetujui atau
bersedia berpartisipasi dalam bimbingan kelompok. Langkah ini dimulai dengan
penjelasan tentang adanya layanan bimbingan kelompok kepada klien meliputi
pengertian, tujuan dan kegunaan bimbingan kelompok. Stelah itu, langkah
selanjutnya adalah melaksanakan pembentukan kelompok dan langsung merencanakan
waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok.
b.
Perencanaan Kegiatan
Perencanaan kegiatan
bimbingan kelompok meliputi penetapan :
Ø
Materi layanan;
Ø
Tujuan yang
ingin dicapai;
Ø
Sasaran
kegiatan;
Ø
Bahan atau
sumber bahan untuk bimbingan kelompok;
Ø
Rencana
penilaian;
Ø
Waktu dan
tempat;
c.
Pelaksanaan Kegiatan
Setelah
perencanaan kegiatan selesai dibentuk dan disepakati bersama, tahap selanjutnya
adalah pelaksanaan kegiatan yang diantaranya adalah sebagai berikut :
Ø
Persiapan
menyeluruh yang meliputi persiapan fisik ( tempat dan kelengkapannya ),
persiapan bahan, persiapan keterampilan, dan persiapan administrasi.
Ø
Pelaksanaan tahap-tahap
kegiatan, meliputi tahap pembentukan, peralihan, dan kegiatan.
d.
Evaluasi Kegiatan
Pada tahap ini,
dilaksanakan kegiatan evaluasi atau penilaian ulang terhadap apa yang telah
dilaksanakan selama proses bimbingan. Penilaian kegiatan bimbingan kelompok
difokuskan pada perkembangan pribadi klien dan hal-hal yang dirasakan mereka
berguna. Isi kesan-kesan yang diungkapkan oleh klien merupakan isi penilaian
yang sebenarnya. Penilaian terhadap bimbingan kelompok berorientasi pada
perkembangan dan kemajuan klien kearah yang lebih baik.
e.
Analisis dan Tindak Lanjut
Hasil penilaian
kegiatan bimbingan kelompok perlu di analisa untuk mengetahui seluk beluk
kemajuan klien dan seluk beluk pelaksanaan kegiatan bimbingan. Untuk mengetahui
apakan hasil pembahsan dan pemecahan masalah sudah dilaksanakan secara optimal,
atau mungkin masih ada aspek-aspek penting yang belum dijangkau dalam
pelaksanaan kegiatan.
3.
Konseling Kelompok
Strategi
berikutnya dalam melaksanakan layanan bimbingan adalah konseling kelompok.
Konseling kelompok merupakan upaya pemberian bantuan kepada klien dalam rangka
memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok
ini memiliki sifat pencegahan dan juga penyembuhan.
Dalam
pelaksanaannya, konseling kelompok memiliki prosedur yang sama dengan bimbingan
kelompok, yaitu terdiri dari (1) tahap pembentukan, ( 2 ) tahap peralihan, (
3) tahap kegiatan, dan ( 4 ) tahap pengakhiran.
Dalam kegiatan kelompok (baik bimbingan kelompok
maupun konseling kelompok) hal-hal yang perlu ditampilkan oleh seluruh anggota
kelompok adalah:
a.
Membina
keakraban dalam kelompok;
b.
Melibatkan diri
secara penuh dalam suasana kelompok;
c.
Bersama-sama
mencapai tujuan kelompok;
d.
Membina dan
mematuhi aturan kegiatan kelompok;
e.
Ikut serta
dalam seluruh kegiatan kelompok;
f.
Berkomunikasi
secara bebas dan terbuka;
4.
Konsultasi
Konsultasi
merupakan salah satu strategi dalam layanan bimbingan dan konseling. Pengertian
konsultasi dalam program bimbingan dan konseling dipandang sebagai suatu proses
penyediaan bantuan teknis guru, orang tua, administrator, dan konselor dalam
mengindentifikasi dan memperbaiki maslah yang membatasi efektivitas klien.
Konsultasi merupakan salah satu strategi bimbingan
yang penting sebab banyak masalah karena suatu hal akan lebih berhasil jika
ditangani secara tidak langsung oleh konselor. Brown dan teman-temanya telah
menegaskan bahwa konsultasi itu bukan konseling atau psikoterapi sebab
konsultasi tidak merupakan layanan yang langsung diberikan kepada siswa, tetapi
secara tidak langsung melayani siswa melalui bantuan yang diberikan orang lain.
Adapun tujuan konsultasi yaitu:
a.
Mengembangkan dan menyempurnakan lingkungan belajar
bagi siswa, orang tua, dan administator sekolah;
b.
Mengajak bersama pribadi yang memiliki peranan dan
fungsi yang bermacam-macam untuk menyempurnakan lingkungan belajar;
c.
Memperluas layanan pendidikan bagi guru dan
administator;
d.
Membantu orang lain bagaimana belajar tentang prilaku
e.
Menciptakan suatu lingkungan yang berisi semua
komponen lingkungan belajar yang baik.
5.
Layanan
Mediasi
Layanan mediasi adalah layanan konseling yang memungkinkan permasalahan
atau perselisihan yang dialami klien dengan pihak lain dapat teratasi dengan
konselor sebagai mediator.
6.
Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial dapat
didefinisikan sebagai upaya guru untuk menciptakan suatu situasi yang
memungkinkan individu atau kelompok siswa tertentu lebih mampu mengembangkan
dirinya seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal
yang diharapkan. Pengajaran remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama
dalam seluruh kerangka pola layanan bimbingan belajar.
Secara sistematika prosedur remedial tersebut
dapat digambarkaan sebagai berikut:
a.
Diagnosik kesulitan belajar mengajar;
b.
Rekomendasi;
c.
Penelaahan kembali kasus;
d.
Pilihan alternatif tindakan;
e.
Layanan konseling;
f.
Pelaksanaan pengajaran remidial;
g.
Pengukuran kembali hasil belajar-mengajar;
h.
Reevaluasi;
i.
Tugas tambahan;
j.
Hasil yang di harapkan;
Strategi dan teknik pengajaran
remedial dapat dilakukan secara preventif, kuratif dan pengembangan. Tindakan
pengajaran remedial dikatakan bersifat kuratif jika dilakukan setelah program
PBM utama selesai diselenggarakan.
C.
Tujuan
Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling
Adapun tujuan dari pelaksanaan
strategi layanan bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai berikut :
1.
Agar klien mampu untuk mencapai perkembangan diri
sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.
Agar klien mampu mempersiapkan diri, menerima dan
bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi
pada diri sendiri.
3.
Agar klien mampu untuk membangun pola hubungan yang
baik dengan teman dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
4.
Agar klien mampu untuk memahami kemampuan, bakat,
minat serta arah kecendrungan karir dan apresiasi seni.
5.
Agar klien mampu memantapkan nilai dan cara bertingkah
laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian tentang strategi layanan bimbingan dan konseling, dapat disimpulkan
bahwa strategi layanan ini meliputi konseling individu, bimbingan kelompok,
konseling kelompok, mediasi, dan konsultasi.
Adapun tujuan
dari sttrategi layanan bimbingan dan konseling secara umum yaitu ( 1 ) Agar klien
mampu untuk mencapai perkembangan diri sebagai manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; ( 2 ) Agar klien mampu mempersiapkan diri,
menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis
yang terjadi pada diri sendiri; ( 3 ) Agar klien mampu untuk membangun pola
hubungan yang baik dengan teman dalam peranannya sebagai pria atau wanita; ( 4
) Agar klien mampu untuk memahami kemampuan, bakat, minat serta arah
kecendrungan karir dan apresiasi seni; ( 5 ) Agar klien mampu memantapkan nilai
dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial.
B.
Saran
Makalah ini kami akui masih banyak banyak
kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu
harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Jundika Nurihsan,
Achmad. ( 2012 ). Strategi Layanan
Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT Reflika Aditama.
Salahudin, Anas. ( 2010
). Bimbingan dan Konseling. Bandung :
PUSTAKA SETIA.
Yusuf, Syamsu, Achmad
Jundika. ( 2006 ). Landasan Bimbingan dan
Konseling. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA.
Hikmawati, Fenti. (
2010 ). Bimbingan dan Konseling. Jakarta
: PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
Perry, Wayne. ( 2010 ).
Dadar-dasar Teknik Konseling. Yogyakarta
: PUSTAKA PELAJAR.
Yusuf, Syamsu, Achmad Jundika. ( 2006 ).
Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung
: PT REMAJA ROSDAKARYA. Cet ke-1, h. 34.